Sabtu, 04 Juni 2011

Budidaya Ikan Nila

1. SEJARAH SINGKAT
  Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan
pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-
danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang
beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak
dapat hidup baik Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal
seperti daging ikan kakap merah. Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh
Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian
dan adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila
adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur Jenderal
Perikanan.
2. SENTRA PERIKANAN
Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan di seluruh propinsi.
3. JENIS

Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut: Kelas : Osteichthyes Sub-kelas :
Acanthoptherigii Crdo : Percomorphi Sub-ordo : Percoidea Famili : Cichlidae Genus :
Oreochromis Spesies : Oreochromis niloticus. Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu:
nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.
4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
5. PERSYARATAN LOKASI
1.Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak
bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3. Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
4.Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan

tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan
air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan.
Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya
plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak
mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk
pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan
yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di
kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
5.Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan
bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus
deras.
6.Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan

keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
7. Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.
8. Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Kolam

Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila
tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb). Adapun
jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila antara lain:
*Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan

Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa
kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam
induk hanya 2 ekor/m 2 . Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air
berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam
sebaiknya berpasir.
*Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam
antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama
pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada
saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
*Kolam pembesaran

Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan
membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:
*Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas

dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah
dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I
ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini

memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil
maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual
kepada pera petani.
*Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih

gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.
Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.
Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10
ekor/meter persegi.
*Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan
kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
*Kolam/tempat pemberokan, pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di

jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan
kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman
kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula
untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan
petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60
cm, dibuat parit selebar 1 - 1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.
2. Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila diantaranya
adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung
sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran,
timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring
secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain
yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah
warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan
penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba
kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat
penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan
telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib
(untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap
ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk
menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser (gunanya=
scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk
menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
3. Persiapan Media

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk
pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam
menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan
kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama
dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa
pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700
gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan
TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.
4. Pembibitan
*Pemilihan Bibit dan Induk
Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:
*Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan
kwalitas yang tinggi.
*Pertumbuhannya sangat cepat.
*Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
*Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
*Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang
relatif buruk.
*Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram
lebih per ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
*Betina
*Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur,
lubang pengeluaran telur dan lubang urine.

*Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.
*Warna perut lebih putih.
*Warna dagu putih.
*Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
*Jantan
*Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus
dan lubang sperma merangkap lubang urine.

*Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
*Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.
*Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.
*Jika perut distriping mengeluarkan cairan.
*Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara
liar.

Akibatnya, kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang
sedang beranak lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang
lebih lama agar dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan. Untuk
mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode kultur
tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang
dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila
betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:

1. Secara manual (dipilih)
2. Sistem hibridisasi antarjenis tertentu
3. Merangsang perubahan seks dengan hormon
4.Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara.
*Perendaman
*Perlakuan hormon melalui pakan
Pembenihan dan Pemeliharaan Benih Pada usaha pembenihan,
kegiatan yang dilakukan adalah :
*Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk
menghasilkan burayak (anak ikan).
*Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih

ikan yang lebih besar. Usaha pembenihan biasanya
menghasilkan benih yang berbeda-beda ukurannya. Hal ini
berkaitan dengan lamanya pemeliharaan benih. Benih ikan
nila yang baru lepas dan mulut induknya disebut "benih
kebul". Benih yang berumur 2-3 minggu setelah menetas
disebut benih kecil, yang disebut juga putihan (Jawa Barat).
Ukurannya 3-5 cm. Selanjutnya benih kecil dipelihara di
kolam lain atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1
minggu akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat
8-10 gram/ekor. Benih ini disebut gelondongan kecil.
Benih nila merah. Berumur 2-3 minggu, ukurannya ± 5 cm.
Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1-
1,5 bulan. Pada umur ini panjang benih telah mencapai 10-
12 cm dengan berat 15-20 gram. Benih ini disebut
gelondongan besar.

Pemeliharaan Pembesaran Dua minggu sebelum dan dipergunakan
kolam harus dipersiapkan. Dasar kolam dikeringkan, dijemur
beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan dicangkul sambil
diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai teriadi
kebocoran. Saluran air diperbaiki agar jalan air lancar. Dipasang
saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah
dasar dikapur untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas
hamanya. Untuk mi dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300
kg/ha (bila dipakai kapur panas, Ca 0). Kalau dipakai kapur
pertanian dosisnya 500-1.000 kg/ha. Pupuk kandang ditabur dan
diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk kandang
dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat
tersebar merata. Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah
semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan
dibiarkan 2-3 hari agar teriadi mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu
tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-100 cm. Kini kolam siap
untuk ditebari induk ikan. Pemupukan Pemupukan dengan jenis
pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), serta kapur. Cara
pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar yang
ditentukan oleh dinas perikanan daerah setempat, sesuai dengan
tingkat kesuburan di tiap daerah. Beberapa hari sebelum penebaran
benih ikan, kolam harus dipersiapkan dahulu. Pematang dan pintu
air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam dicangkul dan

diratakan. Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100-
150 kg/ha. Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam
menjadi 7,0-8,0 dan juga dapat mencegah serangan penyakit.
Selanjutnya kolam diberi pupuk organik sebanyak 300-1.000
kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan sebanyak 50 kg/ha.
Urea dan TSP diberikan dengan dicampur terlebih dahulu dan
ditebarkan merata di dasar kolam. Selesai pemupukan kalam diairi
sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar terjadi reaksi antara
berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han kelima air
kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari
semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan. Pada saat itu
fitoplankton mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna
air kolam menjadi kuning kehijauan. Di dasar kolam juga mulai
banyak terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik
serangga, cacing, anak-anak siput dan sebagainya. Selama
pemeliharaan ikan, air kolam diatur sedalam 75- 100 cm.
Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada
saat makanan alami sudah mulai habis. Pupuk susulan ini
menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk itu dibagi
menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam
keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam,
dua bush di kin dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk.
Sedangkan yang dua keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut
kolam. Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha
diletakkan di dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang
kecil agar pupuk sedikit demi sedikit. Kantong pupuk tersebut
digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam.
Posisi ng terendam tetapi tidak sampai ke dasar kolam. Selain
pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan katul.
pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau
atau sawah yang diberakan. Pemberian Pakan Pemupukan kolam
telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, maupun
binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik
nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan
ikan nila. Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan
tambahan berupa pelet yang mengandung protein 30-40% dengan
kandungan lemak tidak lebih dan 3%. Pembentukan telur pada ikan
memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya. Perlu
pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan
daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan
tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet
sebagai pakan induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar
diketahui berat bio massa maka diambil sampel 10 ekor ikan,
ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang
diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam kolam.
Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka
berat biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x
19.800 gram = 594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari.

Bahan pakan yang banyak mengandung lemak seperti bungkil
kacang dan bungkil kelapa tidak baik untuk induk ikan. Apalagi
kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak halus dan bekatul
boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan seperti itu juga
berfungsi untuk menambah kesuburan kolam. Pemeliharaan
Kolam/Tambak Sistem dan intensitas pemeliharaan ikan nila
tergantung pada tempat pemeliharaan dan input yang
tersedia.Target produksi harus disesuaikan dengan permintaan
pasar. Biasanya konsumen menghendaki jumlah dan ukuran ikan
yang berbeda-beda. Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat,
yaitu :
*Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)

Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan ikan yang
belum berkembang. Input produksinya sangat sederhana.
Biasanya dilakukan di kolam air tawar. Dapat pula
dilakukan di sawah. Pengairan tergantung kepada musim
hujan. Kolam yang digunakan biasanya kolam pekarangan
yang sempit. Hasil ikannya hanya untuk konsumsi keluarga
sendiri. Sistem pemeliharaannya secara polikultur. Sistem
ini telah dipopulerkan di wilayah desa miskin. Pemupukan
tidak diterapkan secara khusus. Ikan diberi pakan berupa
bahan makanan yang terbuang, seperti sisa-sisa dapur
limbah pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.). Perkiraan
pemanenan tidak tentu. Ikan yang sudah agak besar dapat
dipanen sewaktu-waktu. Hasil pemeliharaan sistem
ekstensif sebenar cukup lumayan, karena pemanenannya
bertahap. Untuk kolam herukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan
benih ikan nila sebanyak 20 ruang berukuran 30 ekor.
Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan
kemudian beranak, demikian seterus. Total produksi sistem
ini dapat mencapai 1.000 kg/ha/tahun 2 bln. Penggantian
air kolam menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan
seminggu sekali.
*Sistem semi-Intensif (teknologi madya)

Pemeliharaan semi-intensif dapat dilakukan di kolam, di
tambak, di sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini
biasanya digunakan untuk pendederan. Dalam sistem ini
sudah dilakukan pemupukan dan pemberian pakan
tambahan yang teratur. Prasarana berupa saluran irigasi
cukup baik sehingga kolam dapat berproduksi 2-3 kali per
tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat dilakukan
secara rutin. Pemeliharaan ikan di sawah hanya
membutuhkan waktu 2-2,5 bulan karena bersamaan dengan
tanaman padi atau sebagai penyelang. OIeh karena itu, hasil
ikan dan sawah ukurannya tak lebih dari 50 gr. Itu pun
kalau benih yang dipelihara sudah berupa benih
gelondongan besar. Budi daya ikan nila secara semi-

intensif di kolam dapat dilakukan secara monokultur
maupun secara polikultur. Pada monokultur sebaiknya
dipakai sistem tunggal kelamin. Hal mi karena nila jantan
lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina. Sistem semi-
intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated),
artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain
maupun dengan industri rumah tangga. Misal usaha ternak
kambing, itik dan sebagainya. Kandang dibuat di atas
kolam agar kotoran ternak menjadi pupuk untuk kolam.
Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya juga
dapat dipelihara bersama ikan nila. Limbah sayuran
menjadi pupuk dan pakan tambahan bagi ikan. Sedangkan
lumpur yang kotor dan kolam ikan dapat menjadi pupuk
bagi kebun sayuran. Usaha huler/penggilingan padi
mempunyai hasil sampingan berupa dedak dan katul. Oleh
karena itu, sebaiknya dibangun kolam ikan didekat
penggilingan tersebut. Hasil penelitian Balai Penelitian
Perikanan sistem integrated dapat menghasilkan ikan
sampai 5 ton atau lebih per 1 ha/tahun.
*Sistem intensif (teknologi maju)

Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem pemeliharaan
ikan paling modern. Produksi ikan tinggi sampai sangat
tinggi disesuaikan dengankebutuhan pasar. Pemeliharaan
dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan
pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan
sesering mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan.
Volume air yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau
bahkan lebih. Pada usaha intensif, benih ikan nita yang
dipelihara harus tunggal dain jantan saja. Pakan yang
diberikan juga harus bermutu. Ransum hariannya 3% dan
berat biomassa ikan per hari. makanan sebaiknya berupa
pelet yang berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%.
Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya
sendiri dapat diamati nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan
yang diberikan knya habis dalam waktu 5 menit. Jika pakan
tidak habis dalam waktu 5 menit berarti ikan mendapat
gangguan. Gangguan itu berupa serangan penyakit,
perubahan kualitas air, udara panas, terlalu sering diberi
pakan.
2. HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama
*Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.
*Ucrit (Larva cybister)
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.
*Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.
*Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.
*Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.
Burung

Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam;
diberi rumbai-rumbai atau tali penghalang.
2. Penyakit
*Penyakit pada kulit
Gejala: pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh
berlendir. Pengendalian: direndam dalam larutan PK (kalium
permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air,
pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian direndam dalam Negovon
(kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.
*Penyakit pada insang
Gejala: tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan.
Pengendalian: sama dengan di atas.
*Penyakit pada organ dalam

Gejala: perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit. Pengendalian: sama dengan di atas. Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:

*Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
*Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
*Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
*Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi
satu pintu pemasukan air.
*Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
*Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya
dilakukan secara hati-hati dan benar.
*Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus
peters) sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal
perkolaman.
2. PANEN
Pemanenan ikan nila dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen sebagian.
1. Panen total

Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air
tinggal 10 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m persegi di
depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan
ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan
menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan secepatnya
dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.
2. Panen sebagian atau panen selektif
3.Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen

dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan
waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih
(biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya
dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm selama 1
jam.
3. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan nila dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup
maupun ikan segar.
1. Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
*Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
*Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
*Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2. Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu
diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:

*Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
*Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
*Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
*Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
*Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah
sebagai berikut:
*Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
*plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
*Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan
penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
*air sumur yang telah diaerasi semalam.
*Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.

Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m
atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat
menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5
cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran
benihnya.
*Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
*Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
*Sistem tertutup

Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume
media
*pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik:
*Masukkan air bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih;
*hilangkan udara dengan menekan kantong plastik ke permukaan
air;
*Alirkan oksigen dari tabung dialirkan ke kantong plastik sebanyak
2/3 volume keseluruhan rongga (air:oksigen=1:2);
*kantong plastik lalu diikat.
*kantong plastik dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur
atau ditidurkan. Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m,
dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat
tujuan adalah sebagai berikut:
*Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul
tertasiklin dalam 10 liter air bersih).
*Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari
kolam setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam
kantong plastik terjadi perlahan-lahan.
*Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin
selama 1- 2 menit.
*Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak

pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu,
dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari
berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain
seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin sebanyak 4%
selama 3-5 menit.
*Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
4. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisa Usaha Budidaya
Perkiraan analisis usaha budidaya ikan nila selama 1 bulan pada tahun 1999 di
daerah Jawa Barat adalah sebagai berikut:

*Biaya produksi
*Sewa kolam Rp. 120.000,-
*Benih ikan nila 4000 ekor, @ Rp.200,- Rp. 800.000,-
*Pakan
*Dedak 8 karung @ Rp.800,- Rp. 6.400,-
*Obat dan pupuk
*Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
*Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,- Rp. 18.000,-

*Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,- Rp. 36.000,-
*Peralatan Rp. 100.000,-
*Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7500,- Rp. 225.000,-
*Biaya tak terduga 10% Rp. 133.340,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.466.740,-

*Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.700,- Rp.2.380.000,-
*Keuntungan Rp. 913.260,-
*Parameter kelayakan usaha : B/C ratio 1,62
2. Gambaran Peluang Agribisnis
*Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai,
rawa, danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha
merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha
perikanan di Indonesia. Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya
yang dilaksanakan oleh
*pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam
hal pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca
panen,
*penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan
import. Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan nila dan
ikan air tawar
*lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil
penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Apabila pasaran lokal ikan nila mengalami kelesuan, maka akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat
grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan nila boleh dikatakan
hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi
pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal,
maka sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang
cerah.

Jumat, 03 Juni 2011

Penangkaran burung kacer

  Burung kacer atau Magpie Robin yang populer di Indonesia saat ini ada dua jenis, yakni kacer hitam yang sering disebut kacer jawa (Copsychus sechellarum) dan kacer poci (Copsychus saulari) satau kacer sekoci yang sering disebut kacer sumatra. Burung ini memang masih berkerabat yakni sama-sama dalam genus Copsychus.
Perbedaan keduanya yang menyolok hanyalah pada warna bulu hitam-putih. Copsychus sechellarum atau kacer jawa berbulu hitam semua di bagian dada sampai dekat kloaka, sementara Copsychus saularis ataui kacer poci warna hitam hanya sampai dada dan ke bawah hingga kloaka berwarna putih. Sementara itu burung yang sangat mirip dengan kacer poci atau kacer sumatra adalah kacer madagaskar (Copsychus albospecularis).


Habitat
Seperti disebutkan di atas, kacer terdiri dari 3 species, yakni Copsychus saularis, Copsychus sechellarum dan Copsychus albospecularis. Khusus untuk Copsychus saularis (Oriental Magpie Robin) ini terdiri dari 9 subspecies, yaitu:
Kacer poci
1. saularis, (Thailand, India, Nepal, Malaysia, Indonesia)
2. andamanensis, (Kep. Andaman)
3. musicus, (Peninsular, Malaysia, Thailand)
4. prosthopellus, (Hainan-China)
5. erimelas (India ke Indochina),
6. pluto (Sabah - Malaysia, Borneo - Indonesia),
7. ceylonensis (India, Srilanka),
8. adamsi (Sabah - Malaysia, Borneo - Indonesia),
9. mindanensis (Mindanao - Philippines).
  Kacer sumatera atau kacer poci mempunyai warna hitam pada kepala, leher sebatas dada, punggung dan bagian luar ekor. Sedangkan warna putih berada pada dada, perut dan ekor bagian dalam. Penyebaran mulai China, India, Nepal, Thailand, Indochina, Filipina, Malaysia dan Indonesia.
Kacer hitam atau sering disebut kacer jawa
Memiliki suara yang keras, nyaring dan pintar menirukan suara-suara di sekelilingnya. Penampilan sangat atraktif sambil membuka ekor serta mengeluarkan suara kicauan yang merdu. Burung ini sangat menyukai udara panas.
Kacer hitam (Copsychus sechellarum) atau Seychelles Magpie Robin penyebarannya mulai dari Seychelles (Afrika), Jawa dan Kalimantan (Indonesia). Seluruh tubuh berwarna hitam, kecuali pada sayap terdapat warna putih. Kemampuan berkicau sangat baik dan pintar menirukan suara-suara di sekelilingnya. Penampilan sangat atraktif sambil memainkan ekor. Volume suara sedang. Jenis ini juga sangat suka dengan udara panas.

Kacer madagaskar
Sementara itu kacer madagaskar atau Madagascar Magpie Robin (Copsychus albospecularis) terdiri dari dari 3 subspecies, yakni pica, albospecularis dan inexpectatus. Seluruh subspecies Copsychus albospecularis ini tersebar di wilayah Madagascar Afrika.
Bagian leher sebelah atas, punggung dan ekor berwarna hitam kebiru-biruan. Kemampuan berkicaunya tidak kalah dari kedua sepupunya C. saularis dan C. sechellarum.
Selain dari ketiga species di atas, ada satu jenis kacer lagi yang beredar di kalangan pedagang dan pemilik burung kacer, yaitu Kacer Blorok. Jenis ini menurut anggapan kebanyakan orang maupun peneliti adalah merupakan hasil perkawinan silang yang terjadi di alam, antara Kacer Hitam Putih (C. saularis) dengan Kacer Hitam (C. sechellarum).
Ciri jantan dan betina
Secara fisik, jantan dan betina burung kacer mudah dibedakan terutama yang sudah dewasa. Pada jantan, bulu hitam pada kepala dan dada mengkilat, sementara yang betina berwarna abu-abu.
Sementara untuk usia trotolan, maka semburat warna hitam pada jantan sudah terlihat meski hanya pada satu dua bulu, sementara trotolan betina hanya warna gelap atau hitam pudar cenderung abu-abu.

Cara memilih burung kacer yang baik.
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan bakalan pada burung kacer.
# Jika pilihan untuk kicauan, tentunya yang berkelamin jantan, dengan ciri warna bulu hitam yang tegas mengkilap dan kontras.
# Bentuk paruh, sebaiknya pilih bentuk paruh yang berpangkal lebar, tebal, besar dan panjang. Paruh bagian bawah harus lurus. Jangan memilih bahan yang memiliki paruh bengkok. Posisi lubang hidung pilih sedekat mungkin dengan posisi mata.
# Kepala berbentuk kotak, mata bulat besar dan melotot. Ini menandakan burung ini mempunyai mental tempur yang baik..
# Postur badan, pilihlah bahan yang berpostur sedang dengan panjang leher, badan dan ekor serta kaki yang serasi. Jangan memilih bahan yang berleher dan berbadan pendek.
# Sayap mengepit rapat dan kaki mencengkram kuat, ini menandakan bahan tersebut sehat. Pilihlah kaki yang besar dan terlihat kering. Warna kaki tidak berpengaruh terhadap mental burung.
# Lincah dan bernafsu makan besar. Ini merupakan ciri-ciri bahan yang bermental baik.
# Leher panjang padat berisi. Menandakan burung ini akan mengeluarkan power suara secara maksimal.

Cara perawatan burung kacer
* Tempat: burung kacer bisa dipelihara dengan sangkar kotak ukuran 40 x 40 x 60 cm atau bisa juga bulat dengan diameter 40 cm. Sementara tenggeran atau pangkringan bisa dibuat dua bersilang dengan diameter masing-masing 1,5 cmdari bahan cabang kayu asam. Pilih kayu dengan permukaan kulit yang agak kasar tetapi tidak tajam sehingga bisa untuk mengasah paruh agar tidak runcing. Untuk perawatan harian, kacer tidak perlu dikerodng dan hanya dikeorodng malam hari agar tidak kedinginan.
* Pakan: Hal utama yang perlu diperhatikan dalam hal pakan adalah menu yang variatif sehingga kecukupan nutrisi, vitamin dan mineralnya. Pakan yang bagus, selain lengkap nutrisinya seperti protein, karbohidrat, juga lengkap vitaminnya seperti vitamin A, D3, E, B1, B2, B3 (Nicotimanide) B6, B12, C dan K3. Selain itu, perlu pula mengandung zat esensial seperti D-L Methionine, I-Lisin HCl, Folic Acid (sesungguhnya adalah salah satu bentuk dari Vitamin B) dan Ca-D


Di samping vitamin, perlu juga kecukupan mineral. Mineral dibutuhkan dalam pembentukan darah dan tulang, keseimbangan cairan tubuh, fungsi syaraf yang sehat, fungsi sistem pembuluh darah jantung dan lain-lain. Seperti vitamin, mineral berfungsi sebagai ko-enzim, memungkinkan tubuh melakukan fungsinya seperti memproduksi tenaga, pertumbuhan dan penyembuhan.
Yang termasuk mineral yang diperlukan burung anis merah adalah Calcium, Phosphor, Iron, Manganase, Iodium, Cuprum, Zinccum, Magnesium, Sodium Chlorin dan Kalium.

Makanan dan extra fooding yang sesuai untuk burung kacer

* Voer (sebaiknya pilih yang berkadar protein sedang yaitu: 12%-18%, belum tentu voer yang berharga mahal akan cocok dengan sistem metabolisme setiap burung kacer. Voer harus selalu tersedia didalam cepuknya. Selalu ganti dengan voer yang baru setiap dua hari sekali.
* EF (Extra Fooding), pakan tambahan yang sangat baik buat burung kacer yaitu: jangkrik, orong-orong, kroto, cacing, ulat hongkong, ulat bambu, ulat kandang, kelabang, belalang dan lainnya. Pemberian EF harus selalu disesuaikan dengan karakter pada masing-masing burung dan juga harus mengetahui dengan pasti dampak klausal dari pemberiannya EF tersebut.

Perawatan dan setelan burung kacer mabung
Masa mabung (moulting) merupakan masa yang sangat menuntut perhatian penghobi burung. Bulu yang hilang dan digantikan selama masa mabung atau meranggas ini menyerap 25% dari total protein yang ada di dalam tubuh burung. Inilah mengapa selama masa mabung perlu ditambahkan juga protein sebesar seperempat total protein dalam tubuh burung.
Bulu-bulu dan selongsong bulu terdiri atas lebih dari 90% protein, khususnya protein yang disebut keratins. Protein bulu berbeda dengan protein pada tubuh dan telur serta memerlukan jumlah proporsional yang berbeda atas asam amino (pembangun sel atau blok protein). Burung harus mengonsumsi makanan dengan kandungan asam amino jenis ini kemudian menyerap dan disimpan sebagai protein (keratin) khusus bagi keperluan pertumbuhan bulu. Proses ini sangat penting bagi burung dan tubuh burung harus bekerja ekstra untuk mendapatkan gizi yang cukup untuk membentuk bulu secara sempurna.
Ketika burung mabung, mereka juga memerlukan energi yang besar untuk memproduksi bulu baru. Keperluan energi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan protein, menyebabkan burung harus mengonsumsi lebih banyak makanan selama meranggas untuk dapat mempertahankan pertumbuhan bulu baru. Untuk diketahui saja, energi yang diperlukan burung selama masa mabung sebesar dua setengah kali lebih banyak ketimbang burung yang sedang memproduksi telur (lihat misalnya penjelasan pada “Moulting in Bird” di situs vetafarm.com yang menjadi referensi utama untuk tulisan mengenai masalah mabung ini).
Faktor-faktor yang berpengaruh pada masa mabung tidak bisa sepenuhnya dipahami, karena sangat kompleks. Umur burung, musim saat mabung, cuaca harian, kadar hormon dan siklus perkembangbiakan, semua menjadi faktor penentu bagi keberhasilan atau kegagalan burung melewati masa mabung.
Hal yang paling utama untuk diingat adalah bahwa pada saat burung mabung, Anda harus memberikan suplai pakan yang cukup sehingga mereka bisa mengembangkan bulu-bulu sesempurna mungkin.
Untuk menyediakan protein yang diperlukan untuk peningkatan produksi bulu, Anda harus meningkatkan asam amino yang mengandung sulfur seperti metionin dan sistin. Protein seperti itu bisa ditemukan di dalam daging hewan. Daging dapat diberikan kepada kebanyakan burung yang sedang mabung dalam jumlah kecil plus pemberian suplemen makanan yang baik. Suplemen multivitamin dan multimineral yang baik seharusnya mengandung berbagai vitamin dan mineral serta asam amino untuk memungkinkan tumbuhnya bulu secara normal.
Meskipun pada umumnya mabung berjalan normal, ada beberapa hal yang sering mengganggu masa mabung burung, khususnya tumbuhnya bulu yang tidak merata atau bahkan ada bulu yang tidak rontok (sekadar nyulam).
Pola perawatan kacer masa mabung:

* Tempatkan burung di tempat yang sepi, jauh dari lalu lintas manusia. Sebaiknya burung lebih banyak dalam kondisi dikerodong.
* Mandi cukup 1x seminggu saja dan jemur maksimal 30 menit/hari atau kalau untuk penanganan ekstrim burung mabung, bisa dilakukan perawatan ekstem mabung.
* Jika Anda tidak menggunakan BirdVit atau BirdMineral, pemberian porsi EF diberikan lebih banyak karena sangat diperlukan untuk pembentukan sel-sel baru dan untuk pertumbuhan bulu baru. Misalnya: stelan jangkrik dibuat 5 ekor pagi dan 5 ekor sore, kroto 1 sendok makan setiap pagi dan cacing 2 ekor 3x seminggu
* Meski tidak menggunakan BirdVit dan/atau BirdMineral, pemberian multivitamin yang berkualitas yang dicampur di air minum 2x seminggu sangat perlu..

Lakukan pemasteran
Masa mabung membuat burung lebih banyak pada kondisi diam dan mendengar. Inilah saat yang tepat untuk mengisi variasi suara sesuai dengan yang kita inginkan. Lakukan pemasteran dengan tepat, sesuaikan karakter dan tipe suara burung dengan suara burung master.

Kamis, 02 Juni 2011

Budidaya burung parkit

  Pak Harto (mantan Presiden yang sudah almarhum) semasa hidup konon pernah memelihara atau beternak parkit untuk menambah penghasilan keluarga. Waktu itu Soeharto masih tinggal di Solo dan menjadi seorang komandan. Binatang hasil ternakannya, lalu ia jual. Agar usahanya berhasil, lelaki itu tak segan-segan melakukan inovasi. Misalnya, soal pakan ternak ia memberikan alternatif lain, ngirit biaya pengeluaran.

“Karena jawawut (pakan utama parkit) mahal, makannya saya ganti beras merah. Hasilnya cukup bagus, ” ungkapnya sambil tersenyum, mengenang masa lalu. Nah berapa keuntungannya? Untuk soal itu, Soeharto tidak ikut campur. Masalah itu, sebagaimana dikutip agroburung. com dari http://bechipersda. blogspot. com, ditangani sang istri, Ibu Tien.

Apakah beternak parkit memang menguntungkan? Bagaimana manajemen ternaknya? Berikut ini serba sedikit mengenai beternak parkit yang dikutip agroburung. com dari http://www. dobisnis. com, yang menulis begini.

Shaw, seorang penulis buku Zoologi of New Holland memberi nama burung mungil ini dengan sebutan Melopsittacus undulates. Melopsittacus berasal dari bahasa yunani, melos yang artinya nyanyian dan psittacua yang merupakan sebutan bagi kerabat burung betet. Sedangkan undulus dari bahasa latin yang berarti bercorak. Corak bergelombang inilah yang mungkin berkaitan dengan warna bulu burung parkit yang bermacam-macam.

Pada tahun 1831 salah satu museum di London, Linne Society memamerkan pajangan burung parkit yang mati, tetapi tampak seperti masih hidup di dalam salah satu ruangannya. Inilah yang akhirnya mengundang berbagai kalangan, terutama para ahli di bidang perburungan. Di antaranya adalah John Gould. Berawal dari sinilah sejarah parkit dibawa ke negeri Inggris.

Sukses di Belgia,pada tahun 1850 perkembangan burung berparuh bengkok ini mulai sukses dibiakkan dikebun binatang Antwerpens, Belgia. Karena kecantikan warna bulu burung ini beberapa negara eropa lainnya mulai ikutan mengimpor burung ini dalam jumlah yang besar. Akhirnya burung parkit sudah mulai dikembangbiakkan di mana-mana.

Warna kuning pada bulu burung parkit dihasilkan di Belgia pada tahun 1872 dan di Jerman pada tahun 1875 dengan warna yang sama. Berikutnya warna biru yang muncul pada tahun 1878. Dan tahun 1917 warna putih menyusul hingga tahun 1940 puncak keragaman warna bulu burung parkit ini.

Penyebaran yang luas menyebabkan burung ini mendapat banyak sebutan. Orang Belanda menyebutnya Undulated grass parkeet. Kalau orang Perancis memanggil dengan sebutan Perche Ondule. Sedangkan bangsa Jerman menggunakan nama Wellensittich.

Mudah beradaptasi

Parkit menyukai hidup berkoloni dan sangat mudah menyesuaikan di dalam kandang penangkaran. Biasa di alam bebas parkit berkembang biak pada bulan Oktober – Desember. Bila musim kawin sang jantan biasanya menyanyi dengan nada rayuan untuk memikat betinanya. Hingga pada saat saling ada kecocokan maka perkawinan akan segera berlangsung.

Berat telur parkit berkisar 2,5 gram/butir dengan jumlah telur rata-rata 6 butir/pasangan parkit. Burung inipun dikenal sangat setia dengan pasangannya. Bila si betina sedang aktif bertelur maka si jantan akan menunggu di luar sambil bersiul menghibur sekaligus akan mengusir apabila ada pengganggu mendekati sarangnya.

Anak burung parkit yang baru keluar dari cangkang telurnya berbobot rata-rata 2,35 gram dengan kondisi mata masih terpejam. Setelah umur sembilan hari barulah matanya terbuka.

Setelah umur 30 hari barulah anak burung parkit mulai siap meninggalkan sarangnya untuk belajar terbang. Namun meski sudah mulai terbang, sang induk biasanya masih menyuapinya hingga umur 40 hari. Setelah umur tersebut biasanya persiapan untuk perkawinan untuk generasi yang baru akan dilakukan.

Anak parkit mulai matang kelaminnya untuk melakukan perkawinan setelah berumur 90 hari. Si jantan yang cukup umur akan segera memikat betinanya dengan siulan mautnya untuk menjadi pasangan yang akan mengembangbiakan keturunannya.

Mudah ditangkar

Perawatan burung jenis ini relatif mudah. Kandang yang diperlukan tidak begitu besar meskipun untuk pengembangbiakan sekalipun. Ukuran 40 x 40 x 60 cm sudah cukup untuk memulai penangkaran. Sedangkan untuk pajangan keindahan ukuran sangkar umum sudah memadai.

Tetapi karena sifatnya yang suka berkoloni dan keragaman warna yang bervariasi ini maka tak salah kalau kita menyiapkan ukuran kandang yang agak besar. Di samping kita bisa tempatkan beberapa pasang. Keindahan warni-warni parkit yang satu dengan yang lain akan sangat jelas.

Berikut ini tips pemeliharaan burung parkit ini:

* Usahakan memilih induk yang berbeda warna. Ciri jantan dan betina burung parkit bisa dibedakan dengan mudah setelah usia 4 bulan. Jantan mempunyai ciri warna biru di bagian atas lubang hidungnya. Kalau warna di bagian itu putih kotor, krem atau coklat, maka bisa dipastikan itu berjenis kelamin betina.

* Pilih yang kelihatan sudah cocok dengan pasangannya karena akan lebih mudah untuk ditangkarkan

* Sesuaikan besarnya kandang dengan jumlah pasangan agar tidak terlalu padat sehingga berakibat kurang baik bagi kesehatan burung termasuk merusak dari segi menikmatinya. ‘Rumah pribadi’ yang umumnya terbuat dari kayu randu berbentuk kotak menjadi syarat bagi setiap pasangan parkit.

* Persiapkan pula kandang cadangan untuk hasil perkembangbiakan apabila pasangan burung sudah mulai produksi.

* Jaga ketersedian pakan dan minum. Usahan dalam kondisi bersih

* Buang makanan yang mulai busuk karena kelebihan dalam pemberian pakan terutama sayuran seperti tauge, jagung atau yang lainnya

* Makanan utama burung ini adalah millet (catatan agroburung.com, di Solo, rata-rata diberi pakan utama jewawut) juga yang mudah didapatkan di kios-kios penjual makanan burung.

Demikian kurang lebihnya.

Rabu, 25 Mei 2011

perternakkan bebek

SEJARAH SINGKAT
  Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Nenek moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik).

SENTRA PETERNAKAN
  Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang
mempunyai musim tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten Amuntai) dan Bali serta Lombok.

J E N I S
  Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan, yaitu:
1)Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV 2000-INA;
2)Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
3)Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call), Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.

  Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian Ternak) Ciawi, Bogor.

MANFAAT
1)Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
2)mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
3)Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
4)Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun.
5)Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.

PERSYARATAN LOKASI
  Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi jauh dari keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan penggusuran dalam beberapa periode produksi.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri, terutama dalam hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu (1).
Perkandangan; (2). Bibit Unggul; (3). Pakan Ternak; (4). Tata Laksana dan (5). Pemasaran Hasil Ternak.

  Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Persyaratan temperatur kandang ± 39 derajat C.
2. Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
3. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang
agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang
4. Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:
  a.kandang untuk anak itik (DOD) oada masa stater bisa disebut juga kandang box, dengan ukuran 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD

  b.kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok

  c.kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).

  Kondisi kandang dan perlengkapanny.
Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain yang bermaksud positif dalam managemen

Pembibitan
Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.

  1)Pemilihan bibit dan calon induk
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik adalah sebagai berikut :

  a.membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya

  b.memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok, ayam atau mesin tetas

  c.membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas peternakan setempat.Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.

  2)Perawatan bibit dan calon induk

  a.Perawatan Bibit
Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m2 mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.

  b.Perawatan calon Induk
Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1 jantan untuk 5 – 6 ekor betina.

  3)Reproduksi dan Perkawinan
Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara alami).

  Pemeliharaan

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
  Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk mewaspadai timbulnya penyakit.
2. Pengontrol Penyakit
  Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
3. Pemberian Pakan
  Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27 minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase.
Cara memberi pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
a.umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)

b.umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai

c.umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.

d.umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).

Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :

a.umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.

b.umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum diberikan secara ad libitum (terus menerus)

c.umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300 ekor. Tiap hari dibersihkan.

Pemeliharaan Kandang
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.

HAMA DAN PENYAKIT
Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:

1)penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan protozoa

2)penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kurang tepat

Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:
1.penyakitDuck Cholera
Penyebab: bakteri Pasteurela avicida.
Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.

2.Penyakit Salmonellosis
Penyebab: bakteri typhimurium.Gejala: pernafasan sesak, mencret.
Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air minum, dosis disesuaikan dengan label obat.

P A N E N
1.Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik

2.Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanam yang berharga


PASCA PANEN
Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk. Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:

a)Pengawetan dengan air hangat
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.

b)Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.

c)Pengawetan telur dengan minyak kelapa
Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak berubah.

d)Pengawetan telur dengan natrium silikat
Bahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna, jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.

e)Pengawetan telur dengan garam dapur
Garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25- 40% selama 3 minggu.

Senin, 23 Mei 2011

budidaya jangkrik dengan cara mudah dan hemat

     Budidaya jangkrik (Liogryllus Bimaculatus) sangat gencar, begitu juga dengan seminar-seminar yang diadakan dibanyak kota. Kegiatan ini banyak dilakukan mengingat waktu yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya memerlukan waktu ± 2-4 minggu.

Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2-3 bulan. Jangkrik betina mempunyai siklus hidup ± 3 bulan, sedangkan jantan kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu memproduksi lebih dari 500 butir telur.

Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.

   SENTRA PERIKANAN

Telah diutarakan didepan bahwa untuk sementara ini, sentra peternakan jangkrik adalah dikota-kota besar dipulau jawa karena kebutuhan dari jangkrik sangat banyak. Sedangkan diluar pulau jawa sementara ini masih banyak didapatkan dari alam, sehingga belum banyak peternakan-peternakan jangkrik.

   JENIS

Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.

   MANFAAT

Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung.

   PERSYARATAN LOKASI

1. Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang baik.
2. Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain sebagainya.
3. Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan.

    PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Menurut Farry, 1999, ternak jangkrik merupakan jenis usaha yang jika tidak direncanakan dengan matang, akan sangat merugikan usaha. Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan dalam merencanakan usaha ternak jangkrik, yaitu penyusunan jadwal kegiatan, menentukan struktur organisasi, menentukan spesifikasi pekerjaan, menetapkan fasilitas fisik, merencanakan metoda pendekatan pasar, menyiapkan anggaran, mencari sumber dana dan melaksanakan usaha ternak jangkrik.

1. Penyiapan Sarana dan PeralatanKarena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran. Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang. Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang.Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman. peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm. Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.
2. Pembibitan
1. 1) Pemilihan Bibit dan Calon IndukBibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif.

Adapun ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:

1. Indukan:
* sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
* kedua kaki belakangnya masih lengkap.
* bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
* badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
* pilihlah induk yang besar.
* dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.
2. Induk jantan:
* selalu mengeluarkan suara mengerik.
* permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
* tidak mempunyai ovipositor di ekor.
* Induk betina:
* tidak mengerik.
* permukaan punggung atau sayap halus.
* ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.
2. Perawatan Bibit dan Calon Induk

Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.

3. Sistem Pemuliabiakan

Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.

4. Reproduksi dan Perkawinan

Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi ± 80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuan-ramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin.

Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas, dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan kayu.

Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata matangnya (daya tetas).

5. Proses kelahiran

Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.

   Pemeliharaan

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

Seperti telah dijelaskan diatas bahwa dalam pengelolaan peternakan jangkrik ini sanitasi merupakan masalah yang sangat penting. Untuk menghindari adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air.

2. Pengontrolan Penyakit

Untuk pembesaran jangkrikn dipilih jangkrik yang sehat dan dipisahkan dari yang sakit. Pakan ternak harus dijaga agar jangan sampai ada yang berjamur karena dapat menjadi sarang penyakit. Kandang dijaga agar tetap lembab tetapi tidak basah, karena kandang yang basah juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit.

3. Perawatan Ternak

Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal).

4. Pemberian Pakan

Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung muda dan gambas. Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain : sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan dicampur menjadi satu.

5. Pemeliharaan Kandang

Air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya jangan sampai masuk kedalam kandang

     HAMA DAN PENYAKIT

1. Penyakit, Hama dan Penyebabnya

Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.

1. Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit

Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.

1. Pemberian Vaksinasi dan Obat

Untuk saat ini karena hama dan penyakit dapat diatasi secara prefentif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat dan vaksinasi tidak diperlukan.

   PANEN

1. Hasil Utama

Peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik.

1. Penangkapan

Telur yang sudah diletakkan oleh induknya pada media pasir atau tanah, disaring dan ditempatkan pada media kain yang basah. Untuk setiap lipatan kain basah dapat ditempatkan 1 sendok teh telur yang kemudian untuk diperjual belikan. Sedangkan untuk jangkrik dewasa umur 40-55 hari atau 55-70 hari dimana tubuhnya baru mulai tumbuh sayap, ditangkap dengan menggunakan tangan dan dimasukkan ketempat penampungan untuk dijual.

    ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

Dalam analisis usaha ini, pada tulisan sebelum saya lakukan revisi adalah hitungan berdasar kondisi tahun 1999. Untuk data terbaru, berikut ini saya turunkan tulisan dari blog sutanmuda.wordpress.com yang menyajikan langkah langkah-langkah budi daya jangrik yang dikembangkan Astrik Indonesia dan IPB.

Membuat kandang

1. Kandang terbuat dari kayu tripleks atau kardus bekas berukuran 100cm x 60cm x 30cm bisa menampung 4.000 ekor jangkrik. Dan kotak ini bisa digunakan 4-5 kali. Atap kandang dilapisi koran atau daun kelapa/daun pisang/daun jati/daun tebu/serabut kelapa.

2. Bahan yang dibutuhkan:

-lakban licin coklat 4 buah

-lem kertas putih 4 buah

-serbuk gergaji 2 plastik

-lis kayu/bambu 40+40

3. Pendukung pertumbuhan atau rumah jangkrik adalah tempat merambat dan nangkring jangkrik berupa empat lengkungan baik besar dan delapan lenkungan kecil yang dibentuk seperti kerangka besi sebuah payung.

Penetasan telur

1. Telur jangkrik dimasukkan ke dalam kain lembab. Telur akan menetas 2-3 hari kemudian. Setiap 400 gram telur akan menghasilkan 80 kg jangkrik umur 35 hari (1 kg jangkrik kurang lebih 1.000 ekor).

2. Bahan yang dibutuhkan:

-Kain tetas 2 buah/dus atau per kandang

-Nampan 2 buah/dus atau per kandang

-Pasir

-Sprayer

-Kertas koran bekas

-Paket telur jangkrik yang berisi telur 400 gram/paket

3. Cara menetaskan:

-Taruh 20 gram telur (1-2 sendok/dus atau per kandang)

-Telur diangin-anginkan terlebih dahulu sekitar 1/2 jam

-Cuci pasir dengan air panas dan letakkan di atas nampan

-Nampan diisi pasir (lembab)

-Siapkan kain tetas dan lembabkan dengan percikan air

-Taruh kain tetas di atas nampan

-Taburkan telur merata di kain tetas

-Tutup telur dengan melipat kain tetas

-Tutup kain tetas dengan kertas koran lembab

-Jaga kelembaban kain tetas (disemprot tiap hari)

Pemeliharaan dan pembesaran

1. Pada proses pembesaran, jangkrik diberi pakan yang cukup baik yaitu pakan pelet buatan Astrik dan sayuran (wortel, gambas, daun katuk, daun pepaya, sawi, dan lainnya).

2. Pemberian sayuran mengikuti ketentuan berikut masa pertumbuhan hari ke-1 sampai ke-10 sebanyak 2 kali/hari, hari ke-11 sampai ke-30 (1 kali/2 hari) dan masa pertumbuhan lebih dari 30 hari tidak diberi pakan sayur.

3. Tahapan pemberian pakan sayuran:

-Cuci dan tiriskan sayuran

-Iris tipis sayuran yang sudah tiris

-Angin-anginkan sekitar lima menit

-Pakai alas lebih baik ketika menganginkan

-Buang sisa sayuran yang tidak dimakan sebelum diganti sebaiknya sore hari

4. Sedangkan untuk minuman diberikan dalam pasir basah

Bahan pakan dan minum

1. Pakan

-Dibutuhkan 6 kg pakan per dus/kandang sampai panen

-Berikan sesuai kebutuhan

-Pakan hendaknya habis tiap hari

-Pemberian pakan dua kali sehari

-Pakan diletakkan di tengah kotak

-Pakai alas lebih baik

-Di atap rumah jangkrik (semprot terlebih dahulu)

-Pakan buatan Astrik diletakkan tipis merata (tidak menggunung).

2. Minum

Masa Pertumbuhan 1-10 hari minuman diberikan di:

-Spon/busa dibasahi dalam wadah/nampan beralas pasir atau kain di tengah kotak

-Semprot atap rumah jangkrik

-Kontrol pakan dua kali sehari

Masa Pertumbuhan lebih dari 10 hari minuman diberikan di:

-Nampan penetasan yang diisi kerikil dan air

-Tambah air kalau kurang

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam budi daya jangkrik kalung:

1. Jangkrik tumbuh kerdil karena bibitnya buruk atau suhu kandang lebih dari 30 derajat C

2. Kanibalisme atau saling memakan antarjangkrik disebabkan kurang makanan/sayur, kurang minum, atau kurang rumah/persembunyian

3. Jangkrik mencret diakibatkan makanan tak teratur dan suhu yang kurang baik.

4. Hati-hati terhadap perangkap yang menyebabkan jangkrik meloloskan diri dan tidak nyaman seperti lakban terbuka, ada lubang lakban, air tergenang, lubang pinggir dinding, dan lubang kecil untuk kabur

5. Penting membersihkan kandang sebelum digunakan kembali dengan kuas/sikat gigi bekas, semprot dengan larutan sirih atau desinfektan, lalu jemur di sinar matahari langsung selama dua hari

   Tinjauan ekonomi

Dengan modal awal Rp 1,4 juta, petani bisa memulai usaha beternak jangkrik. Modal awal tersebut digunakan untuk kandang, telur, pakan, dan biaya persiapan lainnya (Belum termasuk biaya pengangkutan dan pendampingan):

-Kotak (20 buah) Rp 200.000

-Telur 400 gr Rp 240.000

-Pakan 120 kg Rp 900.000

-Beban oven Rp 50.000

-Biaya administrasi Rp 10.000

-Total Rp 1.400.000

Penghitungan keuntungan per 80 kg jangkrik hasil panenan yang dijual Rp 30.000 per kilogram:

-Penjualan 80 kg jangkrik Rp 2.400.000

-Modal Rp 1.400.000

-Biaya pengangkutan satu paket Rp 100.000

-Keuntungan Rp 900.000

    Gambaran Peluang Agribisnis

Penggunaan pestisida yang selama ini didapati pada lahan-lahan pertanian merupakan salah satu penyebab berkurangnya populasi jangkrik, demikian juga penangkapan jangkrik dialam yang dilakukan selama ini membuat penurunan drastis jumlah populasinya.

Dengan alasan-alasan tersebut dan naiknya permintaan jangkrik, maka peternak tidak membiarkan begitu saja kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan membudidayakan jangkrik dengan intensif karena dengan waktu yang relatif singkat untuk memelihara jangkrik sudah mendapat keuntungan yang berlipat ganda.

Dengan semakin banyaknya peternak-peternak jangkrik ini, permintaan untuk telur jangkrik semakin besar juga, jadi banyak peternak yang hanya memproduksi telur jangkrik karena resikonya lebih kecil dan lebih cepat lagi mendapatkan laba untuk sekitar 25-30 hari, dibandingkan proses pembesaran sampai dengan 3 bulan.

Perternakkan Ayam kampung(Ayam Jawa)

 
  Saya salah satu mahasiswa di salah satu universitas swasta di kota solo dan berdomisili di kota boyolali jawa tengah,saya akan mengutarakan pengalaman saya tentang perternakan ayam kampung atau ayam jawa biasanya di ternak/di pelihara oleh sebagaian besar penduduk di jawa tengah dan sekitarnya,untuk di manfatkan telurnya untuk di jadikan lauk,di jual maupun di jadikan campuran jamu.Kekebalan ayam kampung terhadap penyakit di banding dengan ayam potong lebih kuat ayam kampung,jadi masyarakat pada umunya lebih memilih ayam kampung untuk di pelihara.Untuk rasa daging di banding dengan ayam potong lebih enak dan empuk ayam kampung dan harga jual di pasaran ayam kampung cukup tinggi harganya,tapi pemeliharaan ayam kampung cukup lama di bamdingkan ayam potong.Makannan umtuk ayam kampung sangatlah mudah,biasanya yang di berikan nasi busuk,bekatul yang di encerkan,sentrat khusus ungas atau daging katak hijau yang di cacah dll.Penetasaan alami(di engkram) telur ayam kampung cukup lama kurang lebih 30 hari,jika menggunakan alat penetasan bisa lebih cepat di bandingkan dengan di enkram induk
    Saya pertama kali mencoba ternak ayam kampung  atau ayam jawa kira-kira bulan  agustus 2010,karena saya terinspirasi dari tetangga saya yang juga menernak ayam kampung dan ingin menambah uang jajan serta memanfaatkan waktu luang sehabis kuliah.Dengan modal pertama anakkan 37 ekor yang berumur sekitar 2minggu dengan harga 1500 perekor,dengan luas kandang pembibitan pertama 0,5X1m 2 buah dengan dana pembuatan papan kayu 5 biji seharga 45ribu,balok kayu seharga 25ribu dan kandang cadangan untuk ayam dewasa seluas 10X5m dari bambu dengan biaya 150 ribu dengan separo atab dari seng bekasKendala pertama yang saya hadapi ketika itu musim hujan anakan ayam menjadi lemas/lesu karena kedinginan,saya cari tau kepada tetangga yang lebih dulu ternak dan saya di beri solusi untuk menambahkan bolam lampu 5 watt pada setiap kandang dengan jarak kira-kira tidak mengenai kepala anakan ayam dan memberikan vitamin cair seharga 5ribuan dengan di campur ke minuman untuk anakan ayam.Dan yang perlu  di perhatikan adalah kebersihan kandang agar anakan ayam  terhindar terkena penyakit,jika kotoran ayam sudah penuh di tampungan kotoran segera di keruk lebih baik di kumpulkan untuk pupuk tanaman,jika kandang sudah kotor lebih baik di cuci dengan sabun colek agar lebih seteril dari penyakit.Jika anakan ayam sudah dewasa kira-kira umur 2,5-3 bulan di alihkan ke kandang yang lebih luas agar perkembangan ayam lebih cepat besar dan tanah di kandang lebih bagus di taburi sekam agar tidak menimbulkan bau,kotoran ayam juga bisa di jual ke petani  yang sudah kering bercampur sekam seharga kurang lebihnya 8ribu perkarung.Pakan ayam saya beri bekatul yang di encerkan  kadang-kadang juga saya tambahkan sentrat dan vitamin di campur jd satu,dan ketika musim panas datang lebih baiknya sekitar kandang di semprot dengan air agar ayam tidak menderita penyakit(dalam bahasa jawanya gering),pakan ternak saya suplay penuh dengan bekatul karena harganya yang terjagkau perkilonya seharga 1850/kilo kadang jika ada yang menawari nasi kering saya beli perkilonya seharga 750rupiah perkilo. Kendala yang saya hadapi mendirikan kandang di area agak jauh dari rumah  keamanan kandang dari pencuri dan binatang pemangsa,ketika itu ayam saya hilang satu berlanjut hilang tiga terpaksa saya mengelurkan dana untuk membenahi kandang dengan menganti pintu yang kuat dan di beri genbok dan menambahkan bambu di area kandang agar rapat.

    Pada bulan januari saya menjual semua ayam dengan harga perekor 47ribu  alhamdullilah bisa menutup sedikit modal yang saya keluarkan untuk membuat kandang dan pakan ternak,sekarang saya menernak  ayam kampung yang masih kecil dan sedang seharga 5-10ribuan dengan cara di pisahkan di kandang masing-masing dengan jumlah yang lumayan sekitar 100an ekor,dan saat ini saya bergabung dengan tetangga saya yang lebih banyak ternaknya di banding saya hasil ternak ayam kampung di setorkan ke rumah makan di kecamatan lain dan membuat saya lebih semangat lagi terhadap ternak.Saat ini saya sudah mempunyai kandang pembesaran dua dan insa allah akan menambah kandang jika lebih sukses.Bagi pembaca yang berminat di bidang ternak silahkan mencoba ternak ayam kampung dari pada menyiakan waktu luang dan bisa menambah penghasilan yang cukup lumayan.Jika nanti ada pengalaman lain insa allah akan berbagi dengan saudara.Terimakaisih